[Di pagi hari yang cukup berawan, Aku duduk sendirian di bangku taman. Di kelilingi orang-orang yang berlalu-lalang, namun ia merasa terasingkan. Lalu tibalah bayangan muncul di sebelahnya. Tidak lagi dari cermin, kemudian ia duduk dengan tenang di sampingnya.]
Aku: (menunduk, mengusap wajah) "Kenapa semuanya masih terasa sama? Aku sudah mulai mencari diriku, tapi kenapa aku masih merasa kosong?"
Bayangan: (memperhatikan sekitar) "Kau ingin semuanya berubah dengan cepat? Heii...pencarian ini bukan tentang kecepatan, luka-luka yang ada dalam dirimu tak akan sembuh dalam semalam!"
Aku: (menarik napas panjang, merasa resah) "Tapi, kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang salah di dalam diriku? Setiap langkah yang kuambil terasa berat, seakan ada beban yang tak bisa kulepaskan."
Bayangan: "Itu karena kau membawa jejak-jejak luka yang belum sembuh, luka-luka itu tertinggal di belakang dirimu, kau masih terus membawanya."
Aku: (menggeleng, kebingungan) "Lalu bagaimana aku bisa menyembuhkannya jika aku bahkan tak tahu luka mana yang perlu disembuhkan?"
Bayangan: (melipat tangan, menatap lurus ke depan) "Lihat ke dalam dirimu,setiap keputusan yang kau ambil, setiap penyesalan yang kau rasakan, semua itu meninggalkan bekas. Terkadang, bekas itu lebih dalam dari apa yang kau sadari."
[Aku terdiam. Matanya mengamati dedaunan yang jatuh di tanah. Ia mencoba mengingat masa lalu, kejadian-kejadian yang mungkin telah membentuk dirinya saat ini.]
Aku: "Mungkin... aku terlalu sering berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, mungkin aku sudah terlalu lama menghindari rasa sakit itu."
Bayangan: "Jika kau terus menghindarinya, justru kau terus memperparahnya, luka yang tak diobati akan terus berdarah hingga kau terus merasa kesakitan."
Aku: (tersentak, menoleh ke arah Bayangan) "Jadi, aku harus menghadapi semuanya? Bahkan rasa sakit yang paling menyakitkan?"
Bayangan: (tersenyum samar) "Ya, itulah satu-satunya jalan, kau harus berani menyentuh luka itu, merasakannya, dan kemudian melepaskannya."
Aku: (menggeleng lemah) "Tapi bagaimana kalau aku tak sanggup? Bagaimana kalau rasa sakitnya terlalu besar untuk kutanggung?"
Bayangan: "Tak perlu menanggungnya sendirian, rasa sakit itu adalah bagian dari dirimu, beri dirimu waktu untuk merasakannya, dan kau akan menemukan kekuatan di balik setiap perasaan yang kamu rasakan."
[Aku menunduk, merasakan beban di dadanya semakin berat,air matanya mengalir pelan, tapi ia biarkan mengalir sampai menyentuh pipinya. ]
Aku: (berbisik dengan suara gemetar) "Rasanya menyakitkan sekali, semua yang pernah terjadi... seakan kembali menghantuiku."
Bayangan: (meletakkan tangan di bahu Aku) "Itulah prosesnya, terlihat menyakitkan, tapi itulah cara agar kau bisa sembuh, luka-luka itu ada untuk kau sadari, bukan untuk kau abaikan."
[Ada keheningan di antara mereka,taman di sekeliling seolah membeku, hanya suara angin yang terdengar lembut di telinga.]
Aku: (berbicara perlahan) "Jadi... bagaimana aku bisa tahu kapan aku benar-benar sembuh?"
Bayangan: "Ketika kau bisa melihat ke belakang, ke semua luka itu, dan merasakan kedamaian. Bukan dengan cara melupakannya, tapi dengan cara memperbaikinya, kau telah memaafkan diri sendiri dan orang lain."
Aku: (memandang jauh ke depan) "Maaf, ya? Kata yang terlihat sederhana, tapi begitu sulit untuk dijalani."
Bayangan: "Karena maaf bukan sekadar kata, maaf adalah keputusan, keberanian untuk melepaskan beban, dan kesiapan untuk menerima apa yang tak bisa diubah."
Aku: (tersenyum kecil di tengah air matanya) "Mungkin aku belum bisa melakukannya sekarang. Tapi setidaknya, aku tahu jalan yang harus kutempuh."
Bayangan: (mengangguk pelan) "Setiap langkah kecil yang kau ambil adalah bagian dari perjalananmu, jangan terburu-buru, dan jangan menghakimi dirimu sendiri."
[Kali ini Aku menatap Bayangan dengan pandangan yang berbeda, ada pemahaman baru yang tumbuh, sebuah pengakuan bahwa pencarian ini adalah bagian dari dirinya yang belum selesai.]
Aku: (dengan suara lebih tegas) "Aku akan mencoba,dan mungkin tidak akan sempurna, tapi aku akan terus berusaha."
Bayangan: (tersenyum lebar) "Itulah kuncinya, berusaha, dan terus berusaha, karena dalam proses itu, kau akan menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi di dalam dirimu."
[Matahari mulai terbenam, pertanda malam akan datang, kemudian..., Aku duduk lebih tegak sekarang dan siap menghadapi apa pun yang akan datang, meski ia tahu perjalanan ini masih panjang.]
...............
[Kesunyian perlahan mengambil alih taman, dalam hati kecilnya berbisik, dengan penuh keyakinan ia telah mengambil langkah pertama menuju penyembuhan.]
Bersambung...