[Pada suatu malam , didalam sebuah kamar yang remang. Terdapat dua sosok yang sedang duduk di hadapan cermin. Yang satu, "Aku" seseorang yang terjebak dalam pencarian jati diri, dan "Bayangan" sosok diriku yang terpantul di cermin. Namun, bayangan ini tampak hidup, seolah memiliki kehidupan tersendiri.]
Aku (memeluk lutut, menatap cermin) "Siapa kau sebenarnya?"
Bayangan (tersenyum samar) "Kau tahu aku siapa."
Aku "Tidak, aku tidak mengenalmu. Kenapa setiap kali aku menatap cermin, rasanya seperti aku melihat orang asing. Apa kau bagian dari diriku yang hilang?"
Bayangan (mencondongkan tubuh ke depan) "Aku adalah dirimu yang kau lupakan. Bagian yang kau buang jauh, terbenam dalam kebisingan dunia."
Aku (menghela napas dalam, merasa hampa) "Kenapa terasa seperti aku kehilangan diriku sendiri? Semua ini terlalu kabur. Setiap hari aku merasa semakin jauh dari... ya, dari diriku sendiri."
Bayangan "Itu karena kau terlalu sibuk mengejar sesuatu yang tak pernah kau butuhkan. Kau tersesat dalam pencapaian dan keinginan orang lain. Tapi di balik itu semua, kau lupa apa yang benar-benar penting."
Aku (menggigit bibir, berpikir sejenak) "Apa yang penting?"
Bayangan "Dirimu! Menemukan siapa kau sebenarnya. Bukan apa yang orang lain lihat, tapi apa yang kau rasakan jauh di dalam hatimu."
[Kemudian aku berdiri, berjalan ke arah jendela, menatap ke arah luar. dan bayangan hanya diam, mengamati gerak-gerikku.]
Aku (berbicara tanpa menoleh) "Lalu, jika aku tak mengenal diriku sendiri, bagaimana aku bisa mengharapkan orang lain mengenalku? Selama ini aku hanya... hanyut,dan terbawa arus. "
Bayangan "Mereka mungkin sudah lama berhenti berusaha mengenalmu. Kau sendiri yang telah menjauh. Kau melupakan siapa dirimu, dan kini kau mencari? tapi tak tahu di mana harus mulai."
Aku: (menggeleng, merasa lelah) "Jadi, aku harus mulai dari mana?"
Bayangan: "Kau tak bisa memulainya dari orang lain. Kau harus melihat ke dalam. Lihat lebih dalam lagi dari sekadar bayangan yang kau lihat di cermin. Tanyakan pada dirimu, apa yang selama ini kau hindari? Apa yang membuatmu begitu asing pada dirimu sendiri?"
[Aku kembali ke depan cermin, menatap bayangan yang kini terasa lebih nyata.]
Aku: "Mungkin aku terlalu takut. Takut untuk menerima kenyataan tentang diriku, tentang segala kesalahan yang pernah kubuat."
Bayangan: (tersenyum lembut) "Ketakutanmu lah yang membuatmu menjadi manusia. Tetapi ketakutan juga bisa menjadi penghalang, jika kau biarkan itu menetap."
[Ada keheningan beberapa saat. Tiba-tiba aku mulai merasa sesuatu berubah di dalam hatiku.]
Aku: "Lalu, bagaimana jika aku tak pernah menemukan jawabannya? Bagaimana jika... aku tetap tersesat?"
Bayangan: "Kau tak akan pernah hilang. Selama kau mau mencari, kau akan menemukan dirimu lagi, bagian yang hilang itu selalu ada. Hanya saja, terkadang kau butuh waktu untuk menyadarinya."
Aku: (tersenyum tipis) "Jadi, ini baru permulaan, ya?"
Bayangan: "Ya, ini baru permulaan. Tapi ingat, kau tidak sendirian dalam pencarian ini. Setiap orang, di satu titik dalam hidup mereka, akan mencari bagian yang hilang dari diri mereka sendiri."
Aku: "Tapi kenapa sekarang terasa begitu berat?"
Bayangan: "Karena kau mulai menyadari, beban yang paling sulit untuk dilepaskan adalah beban yang kau ciptakan sendiri."
[Aku terdiam, merenungkan kata-kata itu. Ruangan terasa lebih sunyi, tapi juga lebih damai. Aku tahu, ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan langkah pertama menuju sesuatu yang lebih besar untuk menemukan diri kembali.]
Aku: (berbisik pada diri sendiri) "Mungkin kau benar. Aku belum sepenuhnya hilang, mungkin hanya orang yang terlupakan."
Bayangan: (berbisik kembali) "Mungkin,atau bisa jadi itu hanya pikiranmu saja, jika kau membutuhkanku, kau bisa menemukanku kapan saja, jika kau mau."
[Lampu di kamar mulai meredup. Di luar, angin berbisik pelan, seolah menguatkan percakapan sunyi antara "Aku" dan "Bayangan" itu.]
Perjalanan baru saja dimulai.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar